Posts

Parade kaum tidak enakan

Uni Ifa pengen beli es krim sore itu. Ia sudah siap dengan outfit ke warung. Sebenarnya warung pertigaan itu dekat saja dari rumah. Tapi yaaa tetap saja perlu jalan kaki beberapa menit. Jadi mumpung abang Iki lagi libur, jadilah Uni minta tolong dianterin. Keduanya pun bersiap pergi. Ara yang habis mandi, saat itu sedang menuruni tangga. Tentu saja, anak TK yang satu ini seketika pengen ikut. Bahkan tanpa tujuan pun ia akan bersedia ngintilin kakaknya. Apalagi saat nama es krim dibawa-bawa.  Ia lantas minta ijin ke saya, yang saya jawab boleh aja selama abang dan uni mau bawa adek.  Di sinilah tangisan itu bermula. Kedua kakaknya punya syarat yang normal banget, yaitu Ara kudu sisir rambut dulu.  Yaa gimana ceritanya membawa anak kecil dengan rambut kusut sehabis mandi. Tapi Ara gak mau sisir rambut dulu.  Juga tidak mau kalau ditinggal.  "Tetap mau ikut!" Lalu air mata menyertai pemberontakan kecil itu. Abang dan Uni menunggu.  Kami pun duduk di sofa tenan...

4 Anak Saja

Image
Sebagai muslimah, saya paham beda anak laki-laki dan perempuan dalam hukum Islam. Tapi sebagai muslimah juga, saya mengerti bahwa Allah lebih tahu kondisi hambaNya. Perkara ini bahkan diatur sangat jelas dalam salah satu ayat, bahwa ada yang dikasi anak dan ada yang tidak memiliki anak. Semuanya adalah ketentuanNya. Ini alasan utama, kenapa saat Atya lahir, kami berbahagia. Kami bermimpi akan memiliki anak perempuan yang tangguh dan hebat. Yang pertama kali akan mewarisi hal-hal baik dari kami berdua. Kepadanya akan kami bisikkan segala rencana keluarga, segala rahasia dan exit strategy.  Bagi mama saya, Atya adalah penerus marga, official keeper of rumah kampung. Kepadanya akan dikisahkan segala falsafah Minangkabau. Tidak hanya pengajaran yang utama dan penting, namun juga hal-hal sumbang dalam pergaulan bermasyarakat. Bahkan juga resep khas turun temurun, samba apa yang wajib ada saat event tertentu, bagaimana cara pakai takuluak dan lain-lain. Sungguh banyak sekali yang akan d...

Flower Bouquette

 Ara merasa dikhianati habis-habisan sama ayah. Ini perkara bunga. Saya menyukai bunga, sebab tumbuh besar di pegunungan yang ideal untuk bunga mekar dengan sempurna. Selain saya dan Apa rajin mengurus bunga di rumah. Ada beberapa waktu kami berdua berkelana dalam hutan rimba. Soalnya saya belum sekolah, sementara mama saat itu sibuk sekali dengan urusan mengajarnya. Bersama Apa, saya menjumpai anggrek dengan warna vibrant di dahan-dahan berlumut atau di tepian sungai di kedalaman hutan yang jarang dipijak siapapun.  Jadi bagi saya, bunga adalah tentang keindahan dan kenangan.   Ini alasannya, meski di dalam rumah ada banyak bunga artificial, dan ada beberapa tanaman bunga hidup di rooftop, tapi saya tetap suka pada bunga potong ala florist. Malangnya, uda engga niat beliin bunga.  Ini kayaknya sudah beberapa kali saya ceritakan. Betapapun uda mengerti kalau saya suka bunga hidup, uda tidak akan belikan bunga. Bahkan saat ulang tahun. Dan tidak ada gunanya kalau...

Prau, Pendakian Pertama (Part #2)

Image
(Teman baru dan keluarga baru saat pendakian Prau) Tubuh yang sudah workout berbulan-bulan akan menemukan pengujiannya di track ini. Apakah akan tremor dan menyerah saat di tanjakan yang tidak ramah ini.  Setelah beberapa saat mendaki, saya pikir bakalan baik-baik saja. Nafas sudah mulai terasa nyaman, dan capek bisa hilang dengan istirahat beberapa menit. Melintasi hutan seperti ini serasa kembali ke masa kecil. Saat sering eksplorasi alam bersama almarhum Apa. Dulu saya sering menyusuri sungai dan mengamati tanaman anggrek liar di pedalaman rimba. Juga menyenangkan saat duduk diam tenang-tenang menatapi pohon besar dan segenap burung penghuninya. Saya berasa pulang ke rumah. Rasanya tentram saat melihat pohon berselimutkan lumut, dan hamparan belukar tidak tersentuh. Hanya saja sesekali saya berbalik mengamati kakak. Saya mencemaskan kakak yang diam saja selama di perjalanan. Takutnya kakak tidak kuat setelah dua jam mendaki terus menerus meski perlahan. Selain itu, sejak dari po...

Prau, Pendakian Pertama

Image
Sejenak hening saat kakak bilang kalau ia pengen mendaki gunung. Ini ide yang absurd, tetiba muncul di tengah topik diskusi lainnya yang tidak kalah seru sore itu.  Tapi matanya berbinar. Cemerlang. Semua kegembiraan seakan tertumpah di raut wajahnya, sementara ia menunggu sebuah jawaban penting. Karena sebuah "iya" dari bunda akan menambah penggalan cerita berwarna indah pada hidupnya yang sudah penuh warna warni. Dan "tidak" akan menghilangkan seluruh keceriaan di wajah bulat itu.  Yang kakak tidak tahu adalah, saat perkara pendakian disampaikan pada seseorang yang dekat dengan alam sedari kecil, sebenarnya itu sudah auto approved.  Atau jangan-jangan kakak sudah menyadari ini sebelumnya. Sehingga bisa dengan ringan menyampaikan ide asing dengan wajah seoptimis itu. Saya kira kakak sudah tahu kalau saya akan se-excited dirinya.  Atau mungkin malah lebih.  Karena itu berarti menjemput impian lama. Bahwa saya sangat suka dengan tanaman, hutan dan ketenangan di d...

Kala Mama Membawa Sekantong Jeruk

Waktu itu hari raya Idul Fitri, dan keluarga besar tengah berkumpul di kampung, termasuk Papi dan Mami yang saat itu masih tinggal di komplek Harapan Jaya, Bekasi Saat pergi keliling silaturahim di Sialang, Papi mengambil rantang yang berat dari tangan Mami. Pada POV Papi yang separuh masa remaja dan lanjut bekerja di Jakarta, ini adalah hal yang sudah semestinya. Memang begitu adanya, aaat istri membawa bawaan berat, suami gercep membantu. Apalagi jalanan di Sialang kala itu belum seperti sekarang ini. Lagipula kami bakalan jalan kaki dengan jarak lumayan jauh. Mami sekalian juga menyerahkan totebag besar yang isinya entah apa saja. Papi dengan gembira membawa semuanya dan kami kembali lanjut berjalan sambil menikmati udara pegunungan yang sejuk. Tapi kedamaian seperti itu hanya berlanjut kurang dari satu menit saja. Tante saya yang lain, sepupu dari pihak Apa, berteriak kaget. Kami juga jadinya ikutan kaget, bingung dengan apa yang terjadi. Tante saya tadi itu, segera meraih rantang ...

Kala Atya-Ifa dan Ayi Punya Banyak Uang

Uang hari raya untuk anak-anak, terasa rada kurang sesuai dengan konsep saya tentang uang. Sejauh ini, Atya, Ifa dan Ayi dilatih untuk hanya meminta pada Allah dan ayah bunda saja. Bahkan pada nenek yang punya pensiunan pun, mereka tidak boleh minta apa-apa. Untungnya nenek paham bahwa saya tengah mengajarkan prinsip penting. Jadi nenek bisa mengerti kenapa anak-anak ngga pernah minta uang atau dibeliin sesuatu. Yaaa ada lah satu kali nenek gusar, saat di toko buku tetap saja anak-anak menolak dibelikan. Padahal itu adalah tempat dimana mereka biasa diijinkan leluasa belanja. Tapi saya minta nenek terus bertahan untuk tidak ngasih uang. Sebab insya Allah anak-anak tahu kalau nenek itu sayangnya setinggi gunung, tanpa perlu belikan apa-apa. Konsep bahwa anak meminta pada Allah, merupakan upaya saya mengajarkan anak bahwa Allah Maha Kaya. Bahwa kita ini terbatas kemampuannya namun Allah lah yang maha segalanya. Harapannya ini bakal membawa mereka lebih dekat pada Allah, dan memiliki pe...