Posts

Showing posts from 2026

Meriahnya Puasa di Mata Kanak-kanak

Saya menyukai pasar Ramadan di masa kecil. Saat itu kami hanya membeli dua makanan, mihun dan es cendol berwarna merah. Tapi saya ingat merasa sangat bahagia di perjalanan pulang ke rumah. Kami pulang dengan motor tua milik Apa, pada menit-menit  menjelang berbuka puasa.  Tapi saya begitu ingat semua detil kecilnya itu. Saya ingat betapa nikmat berbuka puasa, dan betapa semangat menunggu berpuasa keesokan harinya.  Tapi entah kenapa Ramadan yang begitu berkesan hanyalah saat kanak-kanak.  Saya bisa ingat, terbangun kala sahur dna mendapati Apa dan mama sudah menyiapkan makanan. Lantas karena kami tinggal di daerah yang sejuk, rasa haus tidaklah begitu mengganggu.  Saat sore, kami bisa pergi beli takjil di labuah silang, atau pergi dengan Apa rada jauhan dengan motor.  Usai berbuka, nyaris semua warga akan menuju masjid untuk sholat tarawih. Rasanya seru melihat masjid jadi terang sekali dan penuh warna warni mukena para ibu.  Nah di masjid inilah kenan...

Parade kaum tidak enakan

Uni Ifa pengen beli es krim sore itu. Ia sudah siap dengan outfit ke warung. Sebenarnya warung pertigaan itu dekat saja dari rumah. Tapi yaaa tetap saja perlu jalan kaki beberapa menit. Jadi mumpung abang Iki lagi libur, jadilah Uni minta tolong dianterin. Keduanya pun bersiap pergi. Ara yang habis mandi, saat itu sedang menuruni tangga. Tentu saja, anak TK yang satu ini seketika pengen ikut. Bahkan tanpa tujuan pun ia akan bersedia ngintilin kakaknya. Apalagi saat nama es krim dibawa-bawa.  Ia lantas minta ijin ke saya, yang saya jawab boleh aja selama abang dan uni mau bawa adek.  Di sinilah tangisan itu bermula. Kedua kakaknya punya syarat yang normal banget, yaitu Ara kudu sisir rambut dulu.  Yaa gimana ceritanya membawa anak kecil dengan rambut kusut sehabis mandi. Tapi Ara gak mau sisir rambut dulu.  Juga tidak mau kalau ditinggal.  "Tetap mau ikut!" Lalu air mata menyertai pemberontakan kecil itu. Abang dan Uni menunggu.  Kami pun duduk di sofa tenan...

4 Anak Saja

Image
Sebagai muslimah, saya paham beda anak laki-laki dan perempuan dalam hukum Islam. Tapi sebagai muslimah juga, saya mengerti bahwa Allah lebih tahu kondisi hambaNya. Perkara ini bahkan diatur sangat jelas dalam salah satu ayat, bahwa ada yang dikasi anak dan ada yang tidak memiliki anak. Semuanya adalah ketentuanNya. Ini alasan utama, kenapa saat Atya lahir, kami berbahagia. Kami bermimpi akan memiliki anak perempuan yang tangguh dan hebat. Yang pertama kali akan mewarisi hal-hal baik dari kami berdua. Kepadanya akan kami bisikkan segala rencana keluarga, segala rahasia dan exit strategy.  Bagi mama saya, Atya adalah penerus marga, official keeper of rumah kampung. Kepadanya akan dikisahkan segala falsafah Minangkabau. Tidak hanya pengajaran yang utama dan penting, namun juga hal-hal sumbang dalam pergaulan bermasyarakat. Bahkan juga resep khas turun temurun, samba apa yang wajib ada saat event tertentu, bagaimana cara pakai takuluak dan lain-lain. Sungguh banyak sekali yang akan d...

Flower Bouquette

 Ara merasa dikhianati habis-habisan sama ayah. Ini perkara bunga. Saya menyukai bunga, sebab tumbuh besar di pegunungan yang ideal untuk bunga mekar dengan sempurna. Selain saya dan Apa rajin mengurus bunga di rumah. Ada beberapa waktu kami berdua berkelana dalam hutan rimba. Soalnya saya belum sekolah, sementara mama saat itu sibuk sekali dengan urusan mengajarnya. Bersama Apa, saya menjumpai anggrek dengan warna vibrant di dahan-dahan berlumut atau di tepian sungai di kedalaman hutan yang jarang dipijak siapapun.  Jadi bagi saya, bunga adalah tentang keindahan dan kenangan.   Ini alasannya, meski di dalam rumah ada banyak bunga artificial, dan ada beberapa tanaman bunga hidup di rooftop, tapi saya tetap suka pada bunga potong ala florist. Malangnya, uda engga niat beliin bunga.  Ini kayaknya sudah beberapa kali saya ceritakan. Betapapun uda mengerti kalau saya suka bunga hidup, uda tidak akan belikan bunga. Bahkan saat ulang tahun. Dan tidak ada gunanya kalau...