Flower Bouquette
Ara merasa dikhianati habis-habisan sama ayah.
Ini perkara bunga.
Saya menyukai bunga, sebab tumbuh besar di pegunungan yang ideal untuk bunga mekar dengan sempurna. Selain saya dan Apa rajin mengurus bunga di rumah. Ada beberapa waktu kami berdua berkelana dalam hutan rimba. Soalnya saya belum sekolah, sementara mama saat itu sibuk sekali dengan urusan mengajarnya. Bersama Apa, saya menjumpai anggrek dengan warna vibrant di dahan-dahan berlumut atau di tepian sungai di kedalaman hutan yang jarang dipijak siapapun.
Jadi bagi saya, bunga adalah tentang keindahan dan kenangan.
Ini alasannya, meski di dalam rumah ada banyak bunga artificial, dan ada beberapa tanaman bunga hidup di rooftop, tapi saya tetap suka pada bunga potong ala florist.
Malangnya, uda engga niat beliin bunga.
Ini kayaknya sudah beberapa kali saya ceritakan. Betapapun uda mengerti kalau saya suka bunga hidup, uda tidak akan belikan bunga. Bahkan saat ulang tahun. Dan tidak ada gunanya kalau saya berharap. Sebab ini soalan cara pandang.
Jadi saya sudah lama berhenti menunggu uda membelikan bunga.
Oh, actually, uda sangat appreciate setiap bunga yang saya tanam itu bermekaran. Lalu di up di story.
Uda juga akan oke jika kita ke pasar pagi Mangga Dua dan beli bunga artificial. Tapi tetap, tidak pernah uda belikan fresh flower bouquet.
Seperti halnya saya, kakak dan uni sudah lama memahami ini.
Tapi lain kisahnya dengan Ara.
Suatu sore kami di perjalanan tanpa ayah, melintas di depan deretan toko bunga.
Saya dan Ara serempak bilang "Whoaaa."
Kakak langsung bilang, kalau kita berhenti, bunda pasti beli bunganya.
Saya nyengir.
Uni Ifa bilang, "Iya. Kalau bunda akan beli terus taruh di atas meja. Tapi ayah pasti bilang gausah."
Ara tidak terima.
"Tapi Ayah bawain Ara bunga kok!"
"Yang Ara ulang tahun? Itu bunga dari rapat."
"Bukan, yang lily putih ada pegangannya."
"Ooh itu hand bouquet punya penganten di tempat ayah mc itu."
Ara terhenyak.
Terdiam lama.
Kakak menjelaskan:
"Dek, hanya bunda yang akan beli bunga segar. Karena bunda suka. Ayah nggak akan beliin. Karena dia akan layu dan useless pada akhirnya. Se simple beda pov aja. Ntar Ara akan ngerti."
Uni menenangkan:
"Dek, ayah memang ga beliin bunga, tapi ayah kasih semuanya kan. Apa yang Ara perlu dan Ara mau. Semuanya ada. Biarin aja bunda yang beli bunga. Ayah ga beliin. Tapi nggak apa-apa."
Ara masih terdiam lama.
Sepertinya bakalan butuh lama menerima situasi ini.
Dulu sebelum masuk sekolah, Ara sering jogging bareng saya, dan rutenya selalu berakhir di florist. Kami memilih beberapa bunga, lalu pulang naik ojek.
Saya pikir, itu kenangan terkuat Ara tentang bunga.
Tapi ternyata bukan.
Setara dengan saya yang terpana dengan anggrek hutan yang menyala di tengah kegelapan. Bagi Ara, bunga itu adalah lily putih yang dibalut pita putih besar. Namun sayang sekali bukan dibuat untuknya.
Sayangnya, saya, kakak dan uni telah menyingkapkan realita dengan kejam tanpa tedeng aling-aling. Kami menyesal tapi sudah tidak bisa melakukan apapun.
Entah dengan cara apa, semoga Ara pulih dan kita sama-sama menemukan kegembiraan lagi dari mekarnya bunga.
Ini perkara bunga.
Saya menyukai bunga, sebab tumbuh besar di pegunungan yang ideal untuk bunga mekar dengan sempurna. Selain saya dan Apa rajin mengurus bunga di rumah. Ada beberapa waktu kami berdua berkelana dalam hutan rimba. Soalnya saya belum sekolah, sementara mama saat itu sibuk sekali dengan urusan mengajarnya. Bersama Apa, saya menjumpai anggrek dengan warna vibrant di dahan-dahan berlumut atau di tepian sungai di kedalaman hutan yang jarang dipijak siapapun.
Jadi bagi saya, bunga adalah tentang keindahan dan kenangan.
Ini alasannya, meski di dalam rumah ada banyak bunga artificial, dan ada beberapa tanaman bunga hidup di rooftop, tapi saya tetap suka pada bunga potong ala florist.
Malangnya, uda engga niat beliin bunga.
Ini kayaknya sudah beberapa kali saya ceritakan. Betapapun uda mengerti kalau saya suka bunga hidup, uda tidak akan belikan bunga. Bahkan saat ulang tahun. Dan tidak ada gunanya kalau saya berharap. Sebab ini soalan cara pandang.
Jadi saya sudah lama berhenti menunggu uda membelikan bunga.
Oh, actually, uda sangat appreciate setiap bunga yang saya tanam itu bermekaran. Lalu di up di story.
Uda juga akan oke jika kita ke pasar pagi Mangga Dua dan beli bunga artificial. Tapi tetap, tidak pernah uda belikan fresh flower bouquet.
Seperti halnya saya, kakak dan uni sudah lama memahami ini.
Tapi lain kisahnya dengan Ara.
Suatu sore kami di perjalanan tanpa ayah, melintas di depan deretan toko bunga.
Saya dan Ara serempak bilang "Whoaaa."
Kakak langsung bilang, kalau kita berhenti, bunda pasti beli bunganya.
Saya nyengir.
Uni Ifa bilang, "Iya. Kalau bunda akan beli terus taruh di atas meja. Tapi ayah pasti bilang gausah."
Ara tidak terima.
"Tapi Ayah bawain Ara bunga kok!"
"Yang Ara ulang tahun? Itu bunga dari rapat."
"Bukan, yang lily putih ada pegangannya."
"Ooh itu hand bouquet punya penganten di tempat ayah mc itu."
Ara terhenyak.
Terdiam lama.
Kakak menjelaskan:
"Dek, hanya bunda yang akan beli bunga segar. Karena bunda suka. Ayah nggak akan beliin. Karena dia akan layu dan useless pada akhirnya. Se simple beda pov aja. Ntar Ara akan ngerti."
Uni menenangkan:
"Dek, ayah memang ga beliin bunga, tapi ayah kasih semuanya kan. Apa yang Ara perlu dan Ara mau. Semuanya ada. Biarin aja bunda yang beli bunga. Ayah ga beliin. Tapi nggak apa-apa."
Ara masih terdiam lama.
Sepertinya bakalan butuh lama menerima situasi ini.
Dulu sebelum masuk sekolah, Ara sering jogging bareng saya, dan rutenya selalu berakhir di florist. Kami memilih beberapa bunga, lalu pulang naik ojek.
Saya pikir, itu kenangan terkuat Ara tentang bunga.
Tapi ternyata bukan.
Setara dengan saya yang terpana dengan anggrek hutan yang menyala di tengah kegelapan. Bagi Ara, bunga itu adalah lily putih yang dibalut pita putih besar. Namun sayang sekali bukan dibuat untuknya.
Sayangnya, saya, kakak dan uni telah menyingkapkan realita dengan kejam tanpa tedeng aling-aling. Kami menyesal tapi sudah tidak bisa melakukan apapun.
Entah dengan cara apa, semoga Ara pulih dan kita sama-sama menemukan kegembiraan lagi dari mekarnya bunga.
Comments
Post a Comment