Posts

Showing posts with the label Kenangan

Change Agility for Kids

Image
Ini adalah pekan ketiga anak-anak belajar di rumah, menyusul adanya anjuran Physical Distancing dari pemerintah. Sejauh ini anak-anak bisa dibilang bahagia dan baik-baik saja di rumah. Setiap pagi gurunya akan memberikan agenda belajar yang harus diselesaikan hari itu. Sementara Atya dan Ifa mengerjakan agenda pagi (Mandi pagi, sarapan dan beberes), saya akan menyelesaikan urusan baby Ara. Sehingga pada pukul delapan nanti kami semua sudah siap untuk belajar. Adakalanya kami serius sekali. Anak-anak menekuni materi sementara saya mengayunkan baby Ara di bouncer sembari mengurus komunitas Ibu Profesional. Sesekali salah satu dari kami berhenti untuk mengunyah cemilan atau menyesap susu kotak. Kadangkala saya memutarkan lagu kokoronotomo atau lagu lawas lainnya sebagai teman belajar. Kami berusaha untuk menikmatinya, dan menerima bahwa belajar bisa dengan berbagai macam cara. Sikap asyik terhadap segala perubahan ini tidaklah terbit seketika, melainkan melalui pembiasaan bertahu...

Setelah Sebulan

Sudah genap sebulan berlalu  kecelakaan mudik yang kami alami , serasa sudah lamaa sekali kejadiannya. Hari-hari yang berlalu berasa lamban karena saya menunggu. Menunggu uda Yose pulih, mendengarkan progress kesembuhan kaki uda dan menunggu uda kembali ke Jakarta. Menunggu Hari pulih total. Menunggu mobil selesai diperbaiki. Rasanya satu hari berjalan lamban sekali. Saya rasa, ketika saya berhasil tegar dan bersemangat tiap hari, di dalamnya ada andil doa dan dukungan dari keluarga dan teman-teman. Soalnya saya pada dasarnya gampang menangis.. haha Setidaknya sih nggak suka ngambek #eh Setelah mengantarkan uda Yose ke ruang rawat dan kami pulang ke rumah, saya terpikir bahwa lebaran kali ini kami akan kehilangan kesempatan silaturrahim. Kita akan bolak-balik ke da Yose, dan saya tidak yakin bisa memasak dan siap-siap untuk lebaran. Saat saya masuk kembali ke kamar dinihari itu, saya sudah bersiap bahwa kali ini lebaran kita tidak akan sama. Ternyata usai sholat subuh, te...

How To Be Brave

Waktu itu listrik belum singgah ke desa kami. Keriuhan macam yang bisa kita harapkan dari sebuah desa di punggung gunung pada tahun delapan puluhan. Hanya ada deru angin melintas, gesekan dedaunan dan sesekali terdengar suara misterius. Saya masih berusia lima tahun kala itu. Kami baru saja datang ke desa permai penghasil pisang ini, dan segera saja saya jatuh cinta pada segala yang ada di sana. Tapi tidak demikian jika malam tiba.. Ada bunyi yang tidak saya sukai.. Bebunyian misterius itu kerap mengusik malam dingin, hadir nyaris di setiap malam. Bahkan di pelukan mama pun saya tidak berhasil mengusir cemas. Ketika suatu malam saya memberanikan diri menceritakan ketakutan pada papa. Papa menatap wajah saya seksama, seakan menakar seberapa banyak rasa takut putrinya. Papa tiba-tiba beranjak begitu saja ke kamar, kemudian kembali dengan sebuah senter. "Coba lihat saja sendiri asal bunyi itu." Saya terhenyak. Mendengarkan suaranya saja saya sudah bersembunyi di b...

Pizza Warna Warni Buatan Mama

Ada suatu masa di periode kanak-kanak saya, saat keluarga kami menanggung ujian. Ujian di mana makan nasi adalah sebuah kemewahan. Saya tidak ingat bagaimana persisnya kondisi kami saat itu, mungkin karena memang sedang susah, atau mama masih menanggung banyak amanah, entah seperti apa, tapi demikian mahalnya sebuah makan malam lengkap kala itu. Iya, saya masing mengingat jelas, bahwa ada kadang ada hari dimana satu kali makan dalam sehari yang nasi-nya diganti dengan singkong. Mengenang masa silam ini selalu saja membuat saya dibanjiri perasaan yang tumpang tindih. Bahagia. Kok bisa sih bahagia makan singkong? Saya bahagia karena singkong tersebut muncul di piring kami dalam bentuk pizza beraneka warna. Sehingga saya selalu melihat piring singkong berwujud segitiga semacam pizza tersebut dengan senang hati. Tentu saja saat itu, pizza hanya bisa kami lihat di tv tanpa berani membayangkan rasanya. Mama adalah chef handal yang menyulap singkong itu menjadi makanan menakjubkan. Terl...

Surat-surat Yang Tak Terbalas

Ikut melambung bersama semangat Atya berkorespondensi , saya pun menuliskan surat untuk sahabat saya Rika, yang suratnya telat saya balas. Alasan menunda ini sungguh sederhana, Rika mengirimkan kepada saya sebuat craft keren hasil karyanya bersama surat tersebut. Ini yang membuat saya terpikir untuk mengirimkan sesuatu barang handmade juga untuk Rika. Satu hari menunda balasan surat, dua hari menunda.. Seminggu sudah.. Sebulan sudah.. Begitulah tabiat dari orang yang suka menunda. Bahkan hingga sekarang, balasan untuk Rika belum terkirim. Aargh... *toyorkepalasendiri Kini semangat Atya membuat saya tersadarkan. Thanks so much duhai putri berpipi bulet. Selain penyesalan mengenai balasan surat untuk Rika, saya merasa tertekan untuk satu hal lain, satu hal yang membuat saya sedih sekali dan bertekad menyelesaikannya segera. Begini loh, setelah saya kabarkan bahwa saya sudah mendapatkan alamat Bu Ida dan no contact Mbak Luluk kepada Atya, Atya sungguh amat gembira, wajahnya ber...

Teruntuk : Adek Atya

Image
Barang-barang yang menyimpan unsur nostalgia dan sarat makna, maunya saya sih disimpen rapi semua. Biar kelak Atya dan Ifa akan mendapati kenangan bahwa masa kecilnya penuh keseruan. Hanya saja karena saat ini ada tantangan keterbatasan ruang, saya menyimpan segalanya di dalam laci-laci atau box kontainer.  Di dalam salah satu laci inilah Atya menemukan kartu-kartu ucapan untuk ulang tahun ultah pertamanya. Saya simpan kartu-kartu ini agar kelak saat Atya bisa baca, Atya akan bisa merasakan kenangan ultahnya yang pertama. Tapi sekarang Atya keburu menemukan kartu tersebut saat masih belum bisa baca.   "Ini apa Nda?"   Saya pun membacakan kartu itu. Adek Atya Semoga panjang umur... Bla... Bla... Dari mas Fauzan   Fyi... Mas Fauzan ini adalah putra tetangga kita. Atya tersenyum lebar. See... Nggak salah kan ya kalau saya menyimpan kartu ini, usia segini aja Atya sudah bisa mengenang ultah pertamanya dengan gembira #caripembenaran Haha.. B...

Baralek dan Budaya Gotong Royong

Image
Ada alasan kenapa dari sejak belia dulu saya senang menemani mama masak, alasan yang bukan saja karena saya memang suka memasak. Tapi karena saat memasak itu, mama suka menceritakan berbagai kenangan masa lalu. Saay kisahkan kembali di sini obrolan saya dengan mama kemaren ya.. Ini adalah kenangan tentang mempersiapkan pernikahan. Cerita kali ini bukan tentang mempersiapkan mental untuk menikah tapi persiapan printilan menjelang acara pernikahan. Mama mengenang, dulu seorang gadis perlu waktu lama untuk mempersiapkan pernikahannya. Bukan karena bolak balik galau #eh :p tapi karena berbulan-bulan sebelum tanggal pernikahan, sang gadis perlu menjahit kelambu dan seprai dulu, sebagian menggunakan mesin jahit sebagian menjahit dengan tangan. Bahkan ada yang menyulam sendiri rendanya. Usai menuntaskan kelambu, sang gadis lalu beralih mengerjakan bunga keranjang dari kertas atau kain. kemudian membuat kue kering untuk mengisi toples-toples.

Warna Warni Kisah Ifa

Assalamualaikum, Saya suka ungu, juga suka pink, hijau dan biru, saya juga suka putih, jingga dan orange.  Lah.. ini kok jadinya semua warna jadi favorit ya :p Intinya saya menyukai segala yang penuh warna warni. Alasan historisnya bisa jadi karena di masa kecil suka main dengan air yang dikasih pewarna makanan. Ini sesungguhnya adalah kisah yang dituturkan oleh papa. Bahwa waktu saya usia 3 atau 4 tahun, papa suka menuangkan beberapa tetes pewarna makanan ke dalam baskom kecil, kemudian saya akan menghabiskan sepagian main air berwarna tersebut. Selain itu, ketika usia kanak-kanak juga, kami pernah beberapa saat lamanya tinggal di sebuah lembah pertanian. Jika pagi tiba, langit sepenuhnya berwarna biru tua menentramkan, tapi tunggu saja sebentar hingga matahari sempurna muncul, cakrawala seakan hanya berkenan memilih warna biru muda saja. Jika sempat, tolehkan wajah ke sisi kanan, di sana ada perbukitan yang menawarkan parade warna menakjubkan. Lihatlah merah menyala ...

Pagu

Assalamualaikum, Tiba-tiba teringat tentang pagu, ini pagu dalam artian loteng yah, bukan batas pengajuan kredit di bank. Saya pengen nulisin lebih lanjut tentang pagu yang kini sudah jarang saya lihat dan malah hampir ga pernah menyebut kata pagu lagi. Kepikiran aja kalau anak-anak besar nanti, ga akan melihat orang memanfaatkan pagu lagi. Kelak saat Atya dan Ifa besar dan menemukan blog ini, semoga bisa ngebayangin pagu itu seperti apa.

Belajar Bersama, Nyamuk dan TV Series Dynasty

Saat saya berusia 5 tahun, mama dipromosikan menjadi kepala sekolah di sebuah desa sunyi senyap. Dinamakan sunyi karena ya emang sepi, gimana nggak sepi karena tv hanya ada di dua rumah, bahkan listrik aja yang nggak lewat di kampung kami. Ini saya gak inget gimana awalnya, tapi banyak aja kakak-kakak yang belajar bersama mama di rumah kami, ini beda dengan belajar privat ala sekarang yah.. Waktu itu mama mengajar ekstra tanpa dibayar, udah gitu anak didiknya nginep bareng di rumah. Biasanya mereka belajar dengan tekun sekali, ga ada yang melirik smartphone, sungguh heibat . Urusan belajar bersama ini menjadi semakin serius menjelang ujian kenaikan kelas, dan menjadi kasak kusuk menjelang EBTANAS.

Masa Kecil: TV dengan Aki

Di toilet kantor, lupa entah apa obrolan sebelumnya, tapi atasan bilang ke saya: "Ini akibat dulu sering makan makanan ringan waktu kecil." (fyi..atasan saya bisa banget jadi teman ngobrol yang asik termasuk urusan cela-celaan begini). Saya nyengir.. "Engga lah Bu, waktu kecil adanya ya makanan kampung dari singkong atau jagung. Gimana mau aneh-aneh, secara listrik aja ga ada." "Nah itu, jadi penyebabnya karena listrik itu." Seorang rekan junior segera nyamber: "Mba, itu beneran masa kecilnya gak ada listrik?" Raut wajah kagetnya seolah sedang melihat alien nyasar. "He eh.." Obrolan di toilet pun bubar jalan begitu aja. Tapi pas balik ke ruangan kerja, saya jadi kepikiran dong ya. Jangan-jangan nih ya.. dari gedung puluhan lantai ini, dari sekian ribu karyawan, hanya saya seorang yang masa kecilnya dilewati zonder listrik. Hiks.. Kepercayaan diri seketika runtuh, trus nangis memeluk PC.

Kehilangan Puisi

Saat matahari berusaha keras mencapai rumah saya, cahayanya menyelinap di sela pohon dan semak. Muncullah garis-garis cahaya menakjubkan. Muncullah puisi. Beberapa saat kemudian, saat matahari sempurna hadir, kesibukan pun tercipta. Dari sana pun terciptalah puisi. Bagaimana tidak, anak-anak beriringan berjalan riang ke sekolah, sesekali berlompatan riang, atau pasangan suami istri berangkat ke kebun dengan wajah gembira, semuanya menyimpan puisi. Nah, apalagi sore, seisi alam menimbulkan puisi di sekeliling saya. Jangan tanya kala malam. Musik semesta mendengungkan puisi. Begitulah masa kecil saya, saat masih duduk di sekolah dasar, saya sudah punya buku puisi (buku itu ada dimana ya..hmm..). Saya suka mengamati, kemudian terseret dalam puisi. Saat menjelang remaja kayaknya saya sudah mulai meninggalkan puisi, saya asik berkirim surat dengan sahabat pena sepenjuru tanah air, karena emang lagi hits banget bersahabat pena waktu itu. Saat kuliah, saya praktis berhenti menulis ke...

Gelisah Hujan

Saya paham hujan adalah rahmat, saya amat mengerti berartinya hujan. Tapi ya begitulah, saya kadangkala galau jika hujan. Saya pikir ini bermula sejak saya kuliah. Mungkin karena kampus saya berada di atas bukit, hingga saat hujan, hujannya berasa banget. Kalau hujan, angin yang membawa tempias hujan akan memukul daun jendela kampus, dinginnya berasa banget, brrrrrr.... Jika hujan sudah disertai angin, sia-sia mencoba menghalang hujan dengan payung, bisa-bisa payung patah atau terbang putus asa. Hujan membuat saya sangat merindukan orangtua. Tiba-tiba kangen... Saat sedang di ruang kuliah, saya akan berharap bisa mudik seketika. Kalaupun sudah sampai di kost, saya tetap sangat merindukan rumah. Mungkin karena rumah membawa banyak kenangan hangat. Waktu saya kecil, hujan malah membawa kegembiraan tiada tara, karena sesekali mama akan mengizinkan saya mandi hujan. Tak terkira senangnya merasakan hujan jatuh dikepala, saya dan kakak akan berlarian di halaman sambil meme...

Tempat yang Sama, Perasaan Berbeda

Image
Pas mudik kali ini, saya sekeluarga main ke villa milik saudara di punggung gunung, di jorong Kubang Bungkuak tempat saya dibesarkan. Kami semangat dong saat diundang datang, sebagian karena suka dengan view yang seru, sebagaian karena mau membantu acara reuni beliau dengan alumni SMPP-nya.

Kebiasaan Sebelum Ramadhan

Dua hari menjelang lebaran ini mau review ah..apa aja kebiasaan saya menjelang lebaran. Soalnya tiba-tiba kepikiran kenapa kalo sekarang ngga ada kegiatan apa-apa.. Suami di kantornya menggelar acara munggahan, pengajian plus makan-makan di kantor. Saya di kantor ngga ada yang berubah. Ngga ngapa ngapain. Hiks.. Jadi mari saya ingat-ingat aja yaa kebiasaan yang sudah berlalu. Di kampung saya, satu hari sebelum puasa dinamakan hari balimau. Balimau ini kalau diartikan secara harfiah adalah keramas, maknanya adalah menyucikan diri sebelum bulan Ramadhan. Dulu sewaktu kecil, sebagian orang akan pergi ke tempat wisata air (entah itu air terjun atau kolam renang), sebagian hanya keramas di rumah. Setelah itu membaurkan kasai ke kepala. Nah talking about kasai.. Kasai adalah racikan daun pandan yang diiris halus dan dicampur dengan bunga-bunga. Biasanya dua hari sebelum balimau udah banyak aja yang menjual kasai ini di pasar. Kesininya, saat saya remaja, udah jarang banget yang benar-benar ...

Will You Marry Me

Tentang ajakan menikah ini, mungkiiin karena saya kebanyakan nonton film atau baca buku romantis kali yah, sehingga kepikirannya kalo orang mau ngajak nikah itu mestinya ada momen syahdu dulu.. trus gugup gitu deh ngejawabnyah.. hihihik... Nah..saya pikir saya juga akan ngalamin hal yang sama. Yaaa.. engga sampe pake makan di restoran temaran penuh lilin trus ada alunan lagu juga sih yaaa.. Tapi saya pikir akan ada pertanyaan senada dengan  "will you marry me?" Gitu...

Rantang.. Bagian dari Lebaran di Masa Kecil

Terlintas di kepala, lirik jam dinding, pukul 12.43.. Tapi kepikiran... tapi mo diomongin dengan siapa. Tulis aja deh... Jadi begini pemirsah.. Saat saya masih SD, saya punya beberapa buah rantang mungil yang terdiri dari dua tumpukan kotak makanan. Biasanya menjelang lebaran, mama membelikan saya rantang baru jika rantang sebelumnya telah rusak.

Dilarang Berdiri di Depan Pintu

Saat saya hamil putri pertama, saya menghabiskan akhir trimester ketiga di kampung. Disinilah saya mendapatkan banyak larangan terkait ibu hamil. Salah satunya: dilarang berdiri di depan pintu. Tidak jelas juga sih apa maksudnya, yang jelas para sesepuh di kampung akan mengomeli saya tanpa ampun kalau saya kedapatan berdiri di depan pintu, baik dengan posisi berdiri manyun ataupun tidak manyun...hihihi...

Selamat Tinggal Ikan

Ada sepenggal masa di remaja saya, saat kami tinggal di lembah indah. Saat itu orangtua sedang giat bertani dan beternak. Lembah itu seperti wajan, dikelilingi perbukitan yang ditanami kopi dan kayu manis. Di kaki bukit lahan sawah berjenjang-jenjang indah. Sesekali kami mengganti tanaman padi dengan tomat, buncis, bawang merah dan kacang. Tepat ditengah 'wajan' adalah rumah kami. Rumah panggung yang berdiri di samping kali kecil berair jernih dan sejuk. Mama menanam banyak bunga yang membuat rumah mungil kami indah sekali. Yang saya akan ceritakan adalah tentang ikan-uikan yang banyak kami pelihara. Papa mempelajari peternakan ikan dan berhasil mengembangkan peternakan ikan sendiri. Separuh dari lahan sawah kami menjelma kolam ikan. Saya menjalani semuanya, mempersiapkan kolam, menemani induk ikan bertelur di sepertiga malam, terjun ke air dingin memindahkan si induk sesaat setelah selesai bertelur, memindahkan bayi-bayi ikan ke sawah beberapa minggu kemudian, memindahkan...

Kisah Si Jambu Air

Salah satu teman baik saya adalah si jambu air. Tumbuh sendiri di pematang sawah, mendapatkan air yang cukup dan zat hara melimpah. Si jambu air yang bercabang rendah ini sungguh murah hati, karena rajin berbuah. Sudah menjadi kewajiban saya sepulang sekolah untuk membawa semangkok garam ke cabang jambu yang paling matang buahnya. Disanalah saya duduk nyaman, memperhatikan awan dengan burung elang beterbangan, atau memperhatikan babi hutan di kejauhan. Sembari mengunyah jambu air tentunya. Saat itu sudah jelas bahwa perkara jambunya bersih atau tidak, diabaikan. Keajaiban alamlah yang membuat saya tidak sakit perut setelah menghabiskan jambu di satu cabang pohon lalu pindah ke cabang lain, hingga garam dimangkok habis dicocoli jambu. Demikian pula keesokan harinya, dan esok harinya lagi, hingga buahnya habis. Untuk kemudian saya tunggu kedatangan musim berbuah berikutnya. Sayang sekali teman baik ini kini sudah tiada.. Hiks..