Parade kaum tidak enakan
Uni Ifa pengen beli es krim sore itu. Ia sudah siap dengan outfit ke warung. Sebenarnya warung pertigaan itu dekat saja dari rumah. Tapi yaaa tetap saja perlu jalan kaki beberapa menit. Jadi mumpung abang Iki lagi libur, jadilah Uni minta tolong dianterin. Keduanya pun bersiap pergi.
Ara yang habis mandi, saat itu sedang menuruni tangga. Tentu saja, anak TK yang satu ini seketika pengen ikut. Bahkan tanpa tujuan pun ia akan bersedia ngintilin kakaknya. Apalagi saat nama es krim dibawa-bawa.
Ia lantas minta ijin ke saya, yang saya jawab boleh aja selama abang dan uni mau bawa adek.
Di sinilah tangisan itu bermula.
Kedua kakaknya punya syarat yang normal banget, yaitu Ara kudu sisir rambut dulu.
Yaa gimana ceritanya membawa anak kecil dengan rambut kusut sehabis mandi. Tapi Ara gak mau sisir rambut dulu.
Juga tidak mau kalau ditinggal.
"Tetap mau ikut!"
Lalu air mata menyertai pemberontakan kecil itu.
Abang dan Uni menunggu.
Kami pun duduk di sofa tenang-tenang, menunggu sampai Ara reda emosinya.
Seraya bersama-sama mengingatkan kalau sesungguhnya boleh banget ikut tapi sisir rambut dulu.
Tapi Ara kekeuh menolak.
Lalu lari ke dapur.
Ke pojokan yang tidak terlihat dari kami semua, namun sebenarnya jarak persembunyian itu hanya dua meter belaka.
"Ara ngga punya keluarga yang sayang sama Ara!"
Saya dan kakak Atya berpandangan, dan langsung punya pemahaman yang sama.
Kakak segera ke dapur, menggamit tangan kecil yang basah karena sudah banyak menghapus air mata. Dan menuntunnya ke sebelah saya. Berikutnya, segala wejangan pun turun.
Bahwa betapapun Ara masih kecil, tapi segala hal-hal yang masuk area logical fallacy, hendaknya tidak dikerjakan. Sementara itu saya terus berpijak pada fakta awal, bahwa pada the first place, Uni bersedia kok bawa Ara.
Tapi uni punya syarat dan batasan sendiri.
Akhirnya setelah obrolan dan tangisan berkelindan sekian lama, senja pun datang dengan damai. Kecuali kakak Atya yang lanjut ngobrol dengan saya, anak-anak pun pergi beli es krim.
Saya mengeluhkan betapa serunya jika kehidupan dewasa saya juga seperti itu. Andai bisa saling ngobrol dengan damai dan semua pihak pun bersedia saling mendengar. Andai saja saya bisa ngasih batasan tentang apa yang bikin saya tersakiti, tanpa saya dianggap buruk.
Jadi saya yang tidak enakan ini, tidak terus-terusan menelan galau dan terpaksa menerima begitu saja. Lalu ketika saya ngasih syarat yang nyaman bagi diri saya, malahan saya yang jadi penjahatnya.
Huhuhu..
Ini sih curhat jadinya.. heuheuu
Tapi yaaa, untungnya saya ini anaknya Apa, yang cukup dibekali pemahaman tentang mindset dan konsep hidup. Jadi galaunya cuma selama anak-anak ke warung pertigaan saja.
Sisanya, saya menjalani hidup sebaik-baiknya.
Pada pihak yang melanggar batasan, dan malah merasa paling benar, pada akhirnya saya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Comments
Post a Comment