Meriahnya Puasa di Mata Kanak-kanak

Saya menyukai pasar Ramadan di masa kecil. Saat itu kami hanya membeli dua makanan, mihun dan es cendol berwarna merah. Tapi saya ingat merasa sangat bahagia di perjalanan pulang ke rumah. Kami pulang dengan motor tua milik Apa, pada menit-menit  menjelang berbuka puasa. 

Tapi saya begitu ingat semua detil kecilnya itu. Saya ingat betapa nikmat berbuka puasa, dan betapa semangat menunggu berpuasa keesokan harinya. 

Tapi entah kenapa Ramadan yang begitu berkesan hanyalah saat kanak-kanak. 

Saya bisa ingat, terbangun kala sahur dna mendapati Apa dan mama sudah menyiapkan makanan. Lantas karena kami tinggal di daerah yang sejuk, rasa haus tidaklah begitu mengganggu. 

Saat sore, kami bisa pergi beli takjil di labuah silang, atau pergi dengan Apa rada jauhan dengan motor. 

Usai berbuka, nyaris semua warga akan menuju masjid untuk sholat tarawih. Rasanya seru melihat masjid jadi terang sekali dan penuh warna warni mukena para ibu. 

Nah di masjid inilah kenangan terkuat bagi kanak-kanak di bulan Ramadan. Meskipun untuk saya, tidak dengan cara yang membanggakan. Karena tidak bisa tergolong anak yang berbaris rapi tanpa pernah main sama teman. Saya termasuk anak yang sibuk main lilin warna warni di baris belakang.. huhuhu. 

Tapi ritme Ramadan melambat di masa remaja. Ada keharusan menyiapkan makanan berbuka. Lalu saya tidak lagi pergi beli makanan takjil. Juga sudah sholat di bagian ibu-ibu, dengan tertib dan khusyuk.

Lalu makin senyap saat usia makin bertambah. Bulan Ramadan adalah bulan ibadah sepenuhnya, terutama saat nge-kost dan bisa itikaf tanpa beban harus mikirin anggota keluarga lain. 

Lalu saya menikah. Ramadan ternyata jadi punua warna lain. Ada kesibukan memikirkan menu buka puasa dan sahur. Ada proses food preparation. Lalu keriuhan memasak di kala sore dan dini hari. Saya jadi sibuk mendampingi anak-anak beribadah. Dan seabrek perkara lain. 

Belum lagi jika sudah mendekati lebaran. Mulai deh sibuk memikirkan persiapan mudik. Apa yang perlu dibawa dan bagaimana menjaga rumah agar tetap aman saat ditinggalkan. Apa pilihan kue kering yang mau dibikin. Terus mau bawa oleh-oleh apa untuk saudara di kampung. 

Fiuuuh.. riuh sekali di dalam kepala. 

Manisnya Ramadan hanya terasa saat duduk di sajadah. Sholat jadi semacam zona istirahat. Break sejenak mencari indahnya Ramadan. Sampai akhirnya teringat bahwa segala responsibility ini memang milik saya. Tapi itu sejatinya adalah peran yang memang perlu dipeluk erat-erat. Dan bukankah peran ini adalah peran yang saya pilih. Dan bahkan disyukuri. 

Sementara di satu sisi, anak-anak saya tengah mencatat kenangan Ramadan terindah. Seperti halnya saya di masa kanak-kanak dulu. 

Saya pun berubah. 

Menyiapkan makanan berbuka tidak lagi sekadar memenuhi perut keluarga dengan makanan halalan thoyyiban, namun hidangan yang akan mereka kenang. Semua kegiatan keluarga bukanlah jadwal yang wajib mereka patuhi, tapi sebuah rangkaian kebersamaan yang akan ada di lembaran kenangan mereka nanti. Agar kelak saat dewasa mereka bisa tersenyum mengenang indahnya Ramadan di masa kecil.

Comments

Popular posts from this blog

Prau, Pendakian Pertama (Part #2)

Kala Mama Membawa Sekantong Jeruk

Prau, Pendakian Pertama