4 Anak Saja
Sebagai muslimah, saya paham beda anak laki-laki dan perempuan dalam hukum Islam. Tapi sebagai muslimah juga, saya mengerti bahwa Allah lebih tahu kondisi hambaNya.
Perkara ini bahkan diatur sangat jelas dalam salah satu ayat, bahwa ada yang dikasi anak dan ada yang tidak memiliki anak. Semuanya adalah ketentuanNya.
Ini alasan utama, kenapa saat Atya lahir, kami berbahagia. Kami bermimpi akan memiliki anak perempuan yang tangguh dan hebat. Yang pertama kali akan mewarisi hal-hal baik dari kami berdua. Kepadanya akan kami bisikkan segala rencana keluarga, segala rahasia dan exit strategy.
Bagi mama saya, Atya adalah penerus marga, official keeper of rumah kampung. Kepadanya akan dikisahkan segala falsafah Minangkabau. Tidak hanya pengajaran yang utama dan penting, namun juga hal-hal sumbang dalam pergaulan bermasyarakat. Bahkan juga resep khas turun temurun, samba apa yang wajib ada saat event tertentu, bagaimana cara pakai takuluak dan lain-lain. Sungguh banyak sekali yang akan diwariskan nenek.
Lalu selang 14 bulan, ada Ifa. Kami sangat bahagia. Ia adalah putri cilik yang adorable.
Beberapa tahun setelah Ifa lahir, pada suatu senja sepulang dari kantor, di lampu merah tamini square, Uda berucap, "Masya Allah uda ngga nyangka, Allah akan menitipkan anak sehebat dan secantik Ifa ke kita." A lil bit flexing, tapi kita memang sebangga dan sebahagia itu.. huhuhu...
Bukankah semua orang tua akan merasa demikian?
Lalu waktu berjalan sementara kami mencintai setiap momen bersama kedua anak perempuan.
Lalu ada Ara.
Yang awalnya berencana hadir dengan saudara kembarnya tapi takdir membawa Ara lahir sendirian.
Sekali lagi kami bersyukur dan bahagia. Ara lahir mambawa keceriaan di tengah redupnya hidup sebagai dampak covid. Kami tertawa riang sepanjang hari, karena Ara. Meski terlalu banyak hal berat yang dijalani saat itu, seperti halnya semua orang di kala wabah melanda.
Dari kesemua anak, tidak satupun saya berdoa saat hamil, agar diberikan anak laki-laki. Melainkan pasrah seutuhnya.
Karena sudah duluan membaca surat yang sangat spesial itu. Allah yang menyatakan statement perkara anak. Lalu siapakah saya yang menggugat, bahkan untuk meminta pun saya tidak sanggup.
Sebab anak adalah amanah.
Saya bahkan ngga ngerti apa kemampuan saya sendiri. Bagaimana bisa sebegitu jumawa meminta sebuah amanah yang besar.
Setiap waktu yang berlalu, kami menikmatinya bersama-sama. Kami bikin cookies, atau merangkai gelang dari manik, atau journalling atau duduk diam di ruang tengah sembari membaca buku.
Rasanya lengkap.
Kami saling mendukung setiap situasi. Ketika ada market day di kelas Ara, kakak akan buatkan lebah imut dari clay. Sementara uni Ifa membuatkan tiang bertema jungle.
Tapi sudah hampir setahun ini, saya memiliki anak laki-laki. Keponakan kami yang bekerja di luar Jakarta, akan pulang secara berkala, dan menghabiskan waktu bersama kami. Tiba-tiba saya memiliki anak yang akan waspada setiap kali saya keliatan meninggalkan rumah. Kakak Atya akan lebih leluasa hidupnya, karena beban anak pertama auto diambil alih. Sementara uni Ifa dan Ara akan sangat happy karena ada abang yang bisa direcokin.
Tiba-tiba ada tambahan anak dalam doa, dan juga anak yang saya perlu update situasinya. Apakah ia tengah kepikiran sesuatu?
Atau lagi bete karena apa?
Iyah, saya memang se-ikut campur itu dalam hidup anak-anak, at certain term tentunya.
Tiba-tiba saya jadi perlu belajar, gimana caranya jadi ibu bagi anak laki-laki.
Ternyata saya masih tidak terbiasa, hiks.
Jadi seperti yang saya bilang pada Atya, Ifa dan Ara, saya kembali menyatakan hal yang sama. Mari bertumbuh bersama-sama, karena bunda tidak punya ilmu yang cukup. Yang ada hanya niat dan effort menjadi lebih baik.
Tapi, saya kira cukup segini saja.
Empat anak rasanya adalah batas maksimal kesehatan mental saya.

Comments
Post a Comment