Posts

Mudik Bersama Anak

 *Tulisan ini dibuat bareng Atya. Ketika saya tengah menulis dan merasa lelah, Atya lanjut menulis. Jadi sebagian tulisan adalah buah pikiran Atya, tanpa diedit. Kanak-kanak udah jelas punya definisi sendiri tentang level keseruan. Jika saya menemukan kegembiraan pada susunan baju yang terlipat rapi setelah disetrika, anak-anak jelas tidak punya pendapat yang sama. Pun juga mereka tidak akan bahagia jika saya suruh untuk membereskan kekacauan lemari. Anak-anak akan berbinar matanya jika saya ajak ke toko aksesoris remaja atau toko buku. Sementara kebahagiaan saya berbanding terbalik seiring banyaknya item belanjaan mereka.. eheu..  Demikian pula tentang mudik. Saya punya segudang cinta yang menguatkan badan, agar bisa menempuh perjalanan yang berat. Juga punya energi yang cukup untuk mengatasi segala tantangan yang terjadi dadakan.  Anak-anak terlalu suka dengan suasana lapang dan nyaman penuh buku, sehingga akan sulit membuat mereka berada di mobil selama 2 hari.  A...

Mudik, Cinta dan Children Oriented

 Mudik itu berat. Dilihat dari sisi mana aja, tetap saja banyak daftar kesusahannya dibanding keseruannya. Pulang kampung bagi keluarga kami hanya memiliki dua opsi saja. Apabila dengan pesawat, maka ada konsekuensi tidak punya kendaraan buat mondar mandir di kampung. Ini jauh lebih pelik ketimbang mikirin ongkos pesawat yang tentu saja amat muahal di masa-masa mudik. Sebab di saat lebaran itu, juga terkandung kesempatan silaturrahim. Di kampung kami yang berada di kaki gunung, kendaraan pribadi menjadi crucial adanya. Tanpa kendaraan sendiri, palingan hanya bisa mengunjungi tetangga dan sanak saudara yang berada di satu kecamatan. Padahal daftar yang wajib dikunjungi sebenarnya panjang pake buanget.  Itu sebabnya kami sekeluarga jadi cenderung pada opsi kedua, yaitu mudik via jalur darat. Ini bermakna, kami mengemasi barang ke mobil, dan bersiap melaksanakan perjalanan dua hari. Kami akan melintasi Jalur Lintas Sumatera, setelah sebelumnya menyeberangi selat Sunda dengan meng...

Mudik dan Hal-hal yang kita pelajari

 Kakak Atya dan Uni Ifa sudah kenyang dengan perkara mudik. Sebab sejak bayi mereka telah ikut kami mudik melintasi Jalan Lintas Sumatera. Berbagai pengalaman telah mereka lewati. Mereka tahu bagaimana jalanan berbelok naik turun bagai roller coaster. Juga merasakan terangguk-angguk begitu kami melewati jalanan yang tidak rata. Pun mereka pernah ketiban barang-barang yang disusun di belakang. Saking kencangnya sebuah goncangan.  Anak-anak juga menikmati dinamika di perjalanan. Adakalanya kita punya banyak makanan, kadang kita sibuk nyari-nyari tempat makan. Kadang mendadak singgah di sebuah pondok kayu yang menjual durian. Pernah juga di suatu tengah malam, saat kami berada di situasi lapar yang nanggung. Sementara makanan di mobil sudah menipis stoknya. Suasana malam yang dingin membuat kami merindukan mie goreng atau gorengan apa saja. Saat itulah kami melihat banyak tenda dari kejauhan. Cahayanya terang dan suasananya ramai. Ekspektasi sudah menebal bahwa di depan sana akan...

Niat dan Output

 Ketika tangan kecil saya audah cukup kuat, Apa mengajari saya mengulek cabe di batu gilingan yang besar. Apa mengajarkan teknisnya, dan memberikan panduan memasak sambalado dengan baik. Saya kemudian tidak hanya berurusan dengan cobek. Akan tetapi juga kayu, tungku api dan aneka wajan yang hitam oleh jelaga. Lantas saya belajar berbelanja bahan masakan ke warung. Saya belajar otodidak tentang memadukan berbagai bahan makanan. Kadang saya memerhatikan ibu lain yang berbelanja, kadang saya menyesuaikan dengan bahan yang tersedia.  Lalu saya memasak.  Sebisanya.  Mengingat saya masih kelas tiga sekolah dasar.  Apabila saya pulang dari sekolah, saya akan memeriksa terlebih dahulu apakah ada nasi di dalam periuk. Di tahun-tahun itu rica cooker belum ditemukan. Sehingga setiap orang memasak basi dengan panci. Setelah air dalam panci ditakar dengan kekuatan ruas jari, panci akan diletakkan di atas tungku yang apinya menyala berkobar. Biarkan hingga air mendidih. Di ta...

Jus Alpukat, Mengalah dan Menghargai

Dalam khasanah minuman favorit saya, jus alpukat menempati posisi penting. Bagi saya rasa alpukat yang rich, tidak terlalu manis,.merupakan sebuah harmoni raasa yang paling juara. Kemanapun alpukat ini disertakan, ia akan menjadi sesuatu yang menonjol. Apalagi jika alpukat yang dihancurkan lalu dimasukan irisan halus gula aren. Whoaaa.. perfect.  Juga kalau dijadikan jus dan ditambahkan krim kental manis. Mantap sekali rasanya.  Bukan kebetulan pula, dalam konteks keluarga kecil saya, ada hubungan yang erat antara jus alpukat dan saling menghargai. Sehubungan dengan pernikahan dengan suami tidak diawali dengan masa perkenalan yang cukup, saya mengenali banyak hal tentang suami justru setelah menikah. Segera saya mengetahui bahwa beliau ternyata membenci jus alpukat. Berbanding terbalik dengan saya yang mencintai jus yang satu ini, Tapi kan ga mungkin menaruh jus alpukat sebagai satu poin perbedaan kami, meskipun memang ini adalah perbedaan. Jadinya saya mengalah, dengan hanya ...

Tidak Semua Perlu Jadi Masalah

 Bandara Soetta dinihari, terasa lengang dan membosankan. Saya duduk di bangku logam yang membuat ketidaknyamanan makin terasa. Belum lagi hembusan angin dingin yang tidak lagi menyejukkan. Level dinginnya naik menjadi menyakitkan kulit. Iya sedingin itu.  Entah karena memang suhunya yang dingin, atau saya yang lagi sinis pada segalanya.  Saya duduk sendirian disana, menunggui detak jam tangan dengan mata kuyu. Perlahan terang mulai datang, seiring penumpang lainnya bermunculan. Satu persatu menempati pojokan terbaik ruang tunggu itu. Lalu seperti halnya saya, duduk terkantuk-kantuk menunggu jadwal keberangkatan.  Saat fajar merah menyelimuti separuh ruangan, seorang bapak separuh baya duduk di samping saya. Ia tersenyum dan saya mengangguk sopan. Lalu ia duduk dan berbasa basi. Pertanyaan khas yang biasa dilontarkan di ruang tunggu bandara. Hendak kemana, darimana, kerja dimana, dan semacamnya. Standar layaknya bertanya pada teman seperjalanan. Saya yang masih terbu...

Sepetak Tentram

 Nama lokasinya adalah Baliak Parik, jorong Sialang, kenagarian Tungka, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, provinsi Sumatera Barat. Ia adalah sebentuk lahan berbentuk wajan. Separuhnya dikelilingi bukit yang sarat dengan kopi robusta dan kayu manis. Sementara sisi lain dipenuhi deretan sawah. Infinite. Karena di ujung sawah sebelah sana, seakan terputus, bersambungkan awan. Sebab mendadak di ujung garis swah ada turunan terjal yang dipenuhi semak belukar. Terus menurun hingga bertemu dengan jalan kecil berbatu. Pada sebentuk tanah pertanian itu, ada isolasi alami. Tidak ada yang leluasa bolak balik ke sana, karena serangkaian bukit dan persawahan itu adalah milik satu keluarga. Bahkan meski ada jalanan yang cukup untuk dilewati truk pick up, tetap saja sepenggal tanah itu tidak terusik.  Suara-suara yang terdengar hanyalah suara yang dimiliki oleh tempat itu sendiri. Suara gemercik air, yang keluar dari mata air di halaman. Juga aliran air yang perlahan...