Posts

Kisah Tebing yang Membungkam Cita-Cita

Image
Raut wajah sekelompok remaja itu kini amat serius, sebab nyawa salah seorang teman mereka diujung tali. Kali ini dalam artian harfiah, karena ini bukanlah pengandaian belaka. Para remaja itu adalah penakluk level kecuraman tebing di pegunungan. Mereka meninggalkan rasa jeri pada ketinggian di sudut rumah. Dan hanya membawa segenap cinta pada alam. Mereka menikmati saat-saat menaklukan tebing licin dan curam, dan juga bergembira saat berhasil mencapai puncak.  Tapi kini mereka berada di posisi yang sulit. Tebing itu terlalu berbahaya. Bahkan dengan segenap tim bekerjasama saling mengulurkan tangan. Tebing itu mustahil bisa mereka daki.  Tegang,.sungguh gawat situasi mereka. Di tengah perjuangan itulah, salah satu pendaki kehilangan pegangan. Seperti kapas, ia melayang di ketinggian. Terus melayang hingga terhempas di jurang yang dalam. 

1 Bulan Saja Waktu Tersisa

Image
  Saya tidak bisa mencegah datangnya para tamu. Pertama kami merupakan sebuah keluarga besar, yang memiliki pendapat yang sama. Bahwa berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Entah apa yang terjadi, susah atau bahagia, namun yang namanya keluarga tetap kudu kumpul. Apalagi dalam momen kelahiran yang membawa nuansa gembira tiada tara. Sudah tentu dua keluarga besar akan bertemu di rumah sakit, dan nanti bakala berlanjut di rumah.  Selain keluarga, saya dan suami memiliki banyak teman dan relasi. Sebagian ya karena hubungan pekerjaan atau kesamaan aktivitas, tapi lainnya merupakan sahabat kami bercerita ngalor ngidur dan tertawa riang bersama. Sudah tentu pula mereka tidak akan tinggal diam, ketika bayi perempuan berpipi bulat lahir ke dunia.  Maka tak ayal lagi, ruang kamar Aisyah, segera dipenuhi pengunjung. Saya baik-baik saja dengan jumlah tamu yang banyak. Karena saya berpendapat, kesembuhan datang dari mata berbinar dan senyum yang mengembang. Akan tetapi, saya meme...

Belajar untuk Berjumpa

Image
  Anak-anak saya sudah begitu lama berada di rumah. Mereka bangun di pagi hari dengan perasaan yang biasa saja, tidak ada lonjakan semangat untuk bertemu teman. Juga tidak ada pembahasan riuh tentang ingin bawa bekal apa hari ini. Pun tidak pula kekhawatiran berjumpa dengan teman yang ngga asik. Mereka terlalu lama berada di bawah perlindungan atap rumah.  Benar bahwa anak-anak mengalami masa sekolah yang nyaman. Mereka mengawali hari dengan melaksanakan agenda pagi seperti sholat subuh, mandi pagi dan sarapan. Kemudian mereka tadarus bersama guru dan teman-temannya via zoom meeting. Begitu selesai, biasanya mereka akan main sejenak, atau ngemil dulu. Sebelum nanti masuk ke e-learning dan mulai belajar. Ruang belajar mereka sebagian via zoom, atau kadang ada materi berupa video yang perlu di- download atau dilihat di youtube channel . Biasanya semua materi itu diikuti dengan tugas-tugas. Ada yang harus dikirimkan di hari yang sama, namun sebagian diberikan waktu yang lebih pa...

Karena Namaku Adalah Syam

 *BAGIAN TERAKHIR DARI 10 TULISAN WRITOBER2021 Namaku Syam. Anak tunggal yang mewarisi tiga lereng bukit dan tiga hamparan lembah. Konon di masa lampau, nenek moyang kami turun dari Gunung Sago dan beranak pinak. Lalu mereka membagi kepemilikan tanah dengan meniup segenggam kapas. Kelak sejauh mana biji kapas terbang dan kemudian tumbuh, itulah batas tanah mereka. Karena kapas itu melambung tinggi dibuaikan angin yang lena, maka akan jauh kapas terbang. Jauh pula rentang tanah warisanku. Selain itu, dikarenakan sejak dahulu kala, anak perempuan di keluarga ini hanya seorang saja di tiap generasinya, tanah ulayat kami utuh. Tidak pernah dibagi-bagi. Beban berat itu yang aku tanggungkan. Mengurusi tiga bukit yang penuh dengan pohon cassiavera dan kopi robusta. Ketika sudah saatnya menebang kayu manis, aku akan sibuk sekali mengatur para pekerja. Memastikan mereka benar-benar menebang pohon yang berdiameter dewasa. Juga memastikan mereka mengambil setiap rantingnya, karena setiap inci...

Selamat Tinggal Syam

Tulisan 9 dari 10. Belajar menulis fiksi. Lima tahun yang lalu, aku sepenuhnya pensiun. Kegagalan operasi yang terakhir membuatku terpukul. Lalu kusadari aku telah kehilangan ketajaman analisis. Pengalaman berpuluh tahun di lapangan telah membuatku amat lelah. Entah bagaimana, aku melewatkan poin penting yang akhirnya membuat semua rencana berantakan. Kerugian materi tidak terhitung, karena ini melibatkan tiga negara sekaligus. Sebuah kegagalan yang membuat semua prestasi sebelumnya tidak berarti apa-apa. Tidak terhitung banyaknya operasi rahasia negara yang telah kulakukan. Untuk itu telah aku telah kehilangan nama asli dan juga kesempatan memiliki keluarga kecil. Namaku hanyalah sandi belaka, dan ketika kedua orangtuaku meninggal, hilang simpul terakhirku dengan yang namanya keluarga. Karena menikah terlihat mustahil dengan situasiku. Maka hanya Syam, satu-satunya perempuan yang ada di pikiranku ketika aku merindukan keluarga. Tapi Syam, sama sepertiku, kukira tidak lagi memiliki nam...

Air

Tulisan 8 dari 10. Belajar menulis fiksi. Sebuah surat datang ke hadapanku. Tanganku bergetar melihat asal surat itu, sebab selain anaknya Lami, tidak ada lagi yang mengirimiku surat.  Sudah kukatakan sejak semula, aku adalah orang yang tidak terpakai lagi. Dan tidak ada yang membutuhkan namaku. Ketika pada sebuah surat, tertera nama lengkapku yang lain, tanganku kehilangan kontrolnya. Itu adalah identitas yang semestinya tidak boleh terkuak. Terlebih lagi, semestinya yang mengenali nama lengkapku yang itu, tidak akan tahu tentang Syam dan negeri asalnya ini. Bahkan Syam sendiri belum pernah kembali ke sini sejak usianya 3 tahun.  Bagaimana bisa ada orang yang tahu nama dan alamatku di sini. Di negara yang bahkan tak pernah terbayang akan kukunjungi. Hanya kekonyolanku sesaat yang membuatku memilih kampung kecil ini sebagai tempat menghabiskan sisa waktu. Aku, seorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tidak banyak lagi yang kuinginkan. Malah sedapatnya aku perlu mengh...

Bak Minum Air Laut

Tulisan 7 dari 10. Belajar menulis fiksi. Hujan turun terlalu deras semalam. Para pemilik toko di sepanjang terminal telah bersiaga sedari hujan pertama turun. Mengingat tempo hari, hujan telah memasuki toko lebih dari mata kaki. Padahal jejeran ruko ini telah lebih tinggi satu meter dari terminal. Kali ini, hujan turun lebih deras dari sebelumnya.  Aku cemas akan barang-barang di dalam toko. Cemas akan air yang akan menyerbu masuk dari arah depan, dan juga kemungkinan atap yang bocor. Buku-buku yang ada di sini tidak akan bertahan pada hamburan air coklat sarat tanah dari pegunungan itu. Ataupun tampias hujan dari sana sini. Mereka rentan sekali.  Di tengah badai itu kuputuskan untuk menyeduh kopi yang kental. Betapapun kantuk datang, aku harus bertahan. Terlalu mahal harga yang harus kutanggung jika sampai ketiduran saat banjir menerjang. Kunikmati kopi pahit ini dengan rakik kacang, yang diantarkan Pak Lami sore ini. Bungkusan terakhir di pekan ini, katanya, karena semua ra...