Posts

15 Menit Mendengarkan Atya

Image
Gebrakan pertama untuk bangkit dari kondisi bahwa saya adalah bunda yang 'lalim' adalah dengan berubah dari kalimat pernyataan ke kalimat pertanyaan. Sudah cukup buruk perasaan saya saat di kegiatan TfF Salatiga kemaren. Saya bertekad untuk melakukan revolusi besar dalah hubungan saya dengan Atya dan Ifa. Terutama Atya sebenarnya, karena komunikasi kita semakin intens. Ifa mungkin karena masih banyak main dan tidur ;p jadi tidak terlalu banyak kena dampak dari pola komunikasi saya yang salah. Maunya sih dalam setiap kondisi, saya selalu menjadi fasilitator yang menggali dan mengembangkan ide. Tapi.... Ternyata berat loh buibu.. Hiks.. Sesekali masih suka 'memerintah' anak-anak, huhuhu... semoga saya segera bisa jadi fasilitator keren untuk Atya dan Ifa. Salah satu kegiatan yang kita rutin jalanin sekarang adalah momen  '15 Menit Mendengarkan Atya'. Biasanya kita lakukan sehabis magrib. Di kesempatan sharing moment ini, saya akan bersiap mendengarka...

Pelajaran Menjadi Seorang Fasilitator dari Kakek dan Mama

Image
Beberapa saat yang lalu saya menulisakn tentang saya yang belum menjadi seorang fasilitator, melainkan masih seorang speaker . Sekarang saya malah kepikiran kalau sebenarnya dari dulu saya sudah mendapatkan teladan dari kakek dan mama sebagai seorang fasilitator. Kalau diingat lagi, sepanjang usia saya, kakek dan mama telah mengajarkan bagaimana menjadi seorang fasilitator. Saya nya aja yang nggak mudeng-mudeng.. huhuhu.. Tetiba pengen jeduk-jedukin kepala. Kakek adalah seorang yang sangat inspiratif. Saya ceritakan kisah bagaimana kakek mengambil keputusan ya.. Pada jaman dahulu, dimana transportasi tidak semudah sekarang, beliau tidak sungkan mengunjungi putra putri nya yang berada di provinsi berbeda-beda untuk mengambil suatu keputusan yang penting. Saya paling hafal kalau kakek sudah sampai di rumah, akan ada kata-kata: "Baa nyo kau Mar?" Sebuah pertanyaan yang menanyakan pendapat mama selaku anak tertua. Kakek kemudian akan melanjutkan ke rumah anak yang lain. H...

Surat-surat Yang Tak Terbalas

Ikut melambung bersama semangat Atya berkorespondensi , saya pun menuliskan surat untuk sahabat saya Rika, yang suratnya telat saya balas. Alasan menunda ini sungguh sederhana, Rika mengirimkan kepada saya sebuat craft keren hasil karyanya bersama surat tersebut. Ini yang membuat saya terpikir untuk mengirimkan sesuatu barang handmade juga untuk Rika. Satu hari menunda balasan surat, dua hari menunda.. Seminggu sudah.. Sebulan sudah.. Begitulah tabiat dari orang yang suka menunda. Bahkan hingga sekarang, balasan untuk Rika belum terkirim. Aargh... *toyorkepalasendiri Kini semangat Atya membuat saya tersadarkan. Thanks so much duhai putri berpipi bulet. Selain penyesalan mengenai balasan surat untuk Rika, saya merasa tertekan untuk satu hal lain, satu hal yang membuat saya sedih sekali dan bertekad menyelesaikannya segera. Begini loh, setelah saya kabarkan bahwa saya sudah mendapatkan alamat Bu Ida dan no contact Mbak Luluk kepada Atya, Atya sungguh amat gembira, wajahnya ber...

Kiriman Pos Atya

Image
  Tadi malam, pada sesi ngobrol-ngobrol malam saya bersama Atya, terungkap cerita Atya tentang pelajaran profesi pak pos di sekolah bersama Bu Ros tadi siang. Saya dengan antusias menggali segala sesuatu tentang pos bersama Atya. Mulai dari apa saja pekerjaan pak Pos, apa saja yang bisa dikirimkan via pos dan prosedur pengirimannya. Atya terlihat senang sekali selama obrolan ini berlangsung. Segala aspek perihal pos sudah dibahas, obrolan berakhir dan Atya pun melanjutkan lompat-lompat di kasur :p Tapi beberapa menit kemudian Atya memeluk saya dengan sedih. Atya : "Atya belum bisa menulis Nda.. bagaimana bisa kakak mengirimkan surat?" Bunda : "Atya ingin kirimkan surat pada siapa?" Tya berucap tanpa ragu. Atya : " Mami, Kak Rima, Ibu Ida dan Mbak Lulu." Senyum saya mengembang sempurna, senang dengan nama-nama yang dipilih Atya. Mami adalah tante saya yang tinggal di kampung, kak Rima adalah putri berusia 8 tahun, anak dari teman mama, sementara ...

Mari Berbagi

Image
Tadi malam, saat saya mengeloni Atya yang sudah setengah mengantuk di kamar, sayup-sayup terdengar obrolan Ifa bersama ayah dan neneknya di luar. Beberapa saat kemudian, wajah bulat Ifa muncul dari balik pintu, kemudian berseru riang.. "Bunda, nanti kalau Bunda sudah tidak bekerja, Ifa yang akan memberikan uang untuk semua kebutuhan Bunda." Belum sempat ngomong apa-apa, eh Ifa udah kabur aja dari kamar. Kejadian singkat itu luput saya tanyakan, karena saya keburu ikut terlelap bersama Atya :p Sebuah momen menarik terkait celotehan Ifa semalam pun terungkap keesokan paginya. Saat di perjalanan ke kantor bersama suami, saya diceritakan sebuah kisah mengharukan. Suami : "Semalam mama nangis. Karena Ifa" Saya : "Oh ya.." Suami : "Ifa bilang kalau nanti uang Ifa habis, ayah tambah ya ayah, trus uda iyain aja. Eh berikutnya Ifa bilang lagi kalau nanti Ifa sudah besar,  Ifa yang akan ngasih uang ke ayah, ayah tidak perlu cari uang lagi. Ifa juga y...

Perjalanan yang Nyaman

Image
Menanggapi cerita teman yang berkeluh kesah tentang ribetnya perjalanan dengan mobil pribadi saat mudik ke arah timur Jawa, trus kemudian meminta saya membagikan tips mengatur perjalanan nyaman. Inilah catatan saya, khusus untuk teman berinisial D :p Ini bukanlah tips perihal persiapan untuk perjalanan. Tapi adalah kisah saya tentang apa yang membuat perjalanan kami menyenangkan. Apakah saya yang berhasil membuat perjalanan jadi seru? Setelah dipikir dan direnungkan, ternyata bukan loh. Haha.. Ternyata yang membuat perjalanan kami jadi nyaman dan seru adalah: 1. Mama Mama menjaga saya agar tetap bersikap 'waras' saat mata mengantuk karena sudah berpuluh jam tidak tidur, jalanan berbelok-belok sementara kedua balita merengek minta ini itu. Mama biasanya mengingatkan agar kami menghargai perjalanan dan menikmati kebersamaan di jalan. jarang-jarang kan bisa duduk mais dalam satu tempat dan bisa fokus ke satu topik obrolan :) 2. Atya dan Ifa Alhamdulillah...  Say...

Bagaimana Kabar Ifa?

Kata orang, teman sejati bisa diketahui saat kita menjalani masa-masa sulit. Saya tidak tahu, bisa jadi ada benarnya, bisa juga kurang tepat. Karena kita pun tidak bisa tahu kan ya.. seperti apa keadaan teman kita satu persatu. Bisa saja saat kita mendapatkan ujian, teman kita menjalani ujian yang jauh lebih berat dari kita, bisa jadi. Saat kita tengah sedih dan repot dengan keadaan kita, bisa jadi teman kita jauuuuh lebih kesusahan lagi. Oleh karena itu, ketika  operasi mata Ifa , saya berterima kasih untuk semua sahabat yng mendoakan saya, baik yang bisa ikut mendampingi saat operasi, yang datang ke rumah sakit pasca operasi, yang kirim ucapan via telpon, whatsapp, bbm ataupun medsos, dan juga pada sahabat yang mendoakan saya diam-diam. Demikian juga pada berbagai ujian kehidupan lainnya. Saya merasa tidak berhak menilai teman sejati berdasarkan siapa yang hadir saat saya kesusahan. Khususnya terkait Ifa, ternyata saya menemukan teman-teman terbaik. Teman yang meskipun suda...