Posts

Cerita Asisten Rumah Tangga

Saya tidak berpengalaman tentang Asisten Rumah Tangga, karena orang tua saya tidak pernah memakai jasa art. Namun saat saya melahirkan putri pertama, kebutuhan art terasa mendesak, mengingat saya segera akan kembali bekerja dan kami sungguh amat jauh dari orang tua. Maka pencarian dimulai.. Alhamdulillah segera bertemu, beliau berusia 40an, punya dua orang putri yang sudah besar dan belum pernah bekerja sebagai art sebelumnya. Saya dan suami berpendapat bahwa art yang tinggal di rumah adalah bagian dari keluarga, maka mengabaikan nasehat berbagai pihak yang menyarankan agar jangan terlalu dekat karena nanti bisa ngelunjak. Kami malahan memanggil beliau dengan panggilan "bude". Diharapkan putri kami kelak akan belajar menghargai beliau sebagai orang tua dan seseorang yang berperan dalam pengasuhannya. Selanjutnya kami selalu memperlakukannya dengan baik, membiarkannya menemukan pola kerja sendiri, memberitahu hal-hal utama dengan baik, dan saya maupun suami tetap mengerjak...

Momen Akad Nikah Kami

Saya senang menghadiri acara akad nikah, mengikuti prosesinya dengan khidmat meski ujung-ujungnya suka menangis terharu.Setelah saya bertemu calon suami yang pekerjaan weekend-nya adalah mc wedding (resepsi dan akad nikah), saya pernah di satu kesempatan memperhatikan beliau memimpin acara akad nikah, sungguh sangat touchy.  Saya kagum luar biasa dengan nuansa sakral yang berhasil dibangun. Meskipun berakhir dengan saya yang kabur keluar ruangan dan ngumpet di toilet karena saya menangis lebih kenceng dari hadirin yang lain.. Ups.. Acara akad nikah kami sendiri berlangsung beberapa minggu sesudahnya. Dengan penuh semangat saya sudah merancang sebuah prosesi sempurna tanpa cela, dengan calon suami yang terbiasa handle acara akad, maka tidak ada keraguan saya akan mendapatkan prosesi akad yang hebat. Demikian.. waktu bergulir hingga mendekati acara pernikahan kami. Dengan segera semua rencana jungkir balik, karena acaranya diadakan di kampung plus kami baru pulang beberapa ha...

Tidak Perlu Mengeluh

Duhai, alangkah panjang daftarnya jika saya mulai mengeluh. Tapi apa iya saya akan mengeluhkan tentang kedua putri saya, tentang betapa tidak nyamannya saat hamil, betapa sakit saat proses kelahiran, dan betapa susah menjaga dua bayi bersamaan. Apakah saya akan mengeluhkan stress karena pekerjaan saya. Padahal sumber keluhan saya itu sebenarnya adalah sumber kebahagiaan saya. Kedua putri adalah penyemangat terbesar dan sember keriangan di rumah, dan pekerjaan ini sudah lama saya impikan. Nah, saya sendiri percaya pada energi positif. Saat saya memandang semuanya secara positif, eeeeeh semuanya terlihat lebih baik, dan ternyata 'beban' itu biasa-biasa saja. Bahkan banyak orang lain dengan 'beban' lebih berat tapi selalu optimis dan tersenyum lega karena percaya lelahnya berdampingan dengan kebahagiaannya.

Nasehat Yang Menyenangkan

Setelah saya melahirkan, banyak sekali wejangan yang singgah, pokoknya yang mampir ke nengokin bayi meninggalkan nasehat macem-macem. Pada hari ketiga pasca melahirkan, mama mengingatkan dengan kalimat yang ringan. “Kurangi makan cabe ya,  ada kemungkinan perut Tya belum bisa adaptasi” Saya menggangguk patuh dan saya mengingatnya. Pun ketika mama mengingatkan saya untuk tidak minum air yang masih rada hangat, saya mengiyakan tanpa komentar. Hari keempat, saya baru saja keluar dari kamar mandi menenteng pakaian yang kotor saat disambut omelan tamu yang datang menjenguk karena saya seharusnya belum boleh membawa barang2, termasuk 2 potong pakaian yang menurut saya ringan. Kayaknya ada dua puluhan kalimat deh yang diucapkan cepat saat saya nongol dari kamar mandi. Saya speechles.. Bisa jadi nasehatnya benar, hanya saya tak bisa lagi menangkap pesannya karena tersamar dalam ratusan kata.

Bunda (bukan) Teladan

Suatu sore, suami yang pulang kantor duluan menemukan bekas gigitan di tangan Zifa yang tertidur nyenyak, curiga dengan bentuk gigitan kecil ini, suami mencari sang putri pertama, Atya. "Atya, kak Tya tau ngga kenapa tangan dedek begini' "Atya yang gigit dedek Ayah.." ujar Atya dengan mantap. (ayah bengong..) "Kenapa Nak?" "Gak apa apa Ayah, bunda juga suka gigit-gigit dedek" Suami speechless..dan langsung bbm saya untuk menceritakan obrolan ini. Saya yang suka gemes sama Zifa dan suka pura-pura gigit-gigit, langsung mbrebes mili.. hiks..

Baby Blues

Sebelum melahirkan, saya tidak terlalu percaya bahwa ada yang namanya baby blues . Saya berpendapat baby blues dirasakan karena ibu yang melahirkan kelelahan dan belum terbiasa dengan ritme kehidupan baru. Yah, kayaknya gitu deh.. Saat melahirkan putri pertama di kampung, saya ditinggal suami pada hari kedua..hiks.. Suami terpaksa kembali ke Jakarta meninggalkan saya, new baby dan mama di rumah sakit..terbaring kesepian.. eh engga gitu juga ding. Seketika saya menjadi amat dekat dengan para perawat. Yaa, sebelumnya dekat juga sih, karena adik-adik perawat ini rajin sekali menyapa. Hanya sekarang saya menjadi amat menyadari keberadaan mereka. Saya menikmati momen kamar dibersihkan, saya menyukai ibu yang mengantar makanan ke kamar saya, saya suka mengamati perawat mondar mandir, sungguh saya mencintai semuanya. Tapiiii saya kan ngga akan tinggal selamanya di rumah sakit.. Ada saat saya sudah diperbolehkan pulang. Trus saya mulai terguncang, saya tidak ingin pulang menempati r...